Keluarga dan Sosial Media

 



Keluarga dan Sosial Media

 

Aku tiba di ambang pintu sebuah rumah

semua jendela tertutup

hanya ada berkas-berkas cayaha suram yang terlihat sporadis

aku memanggil tak ada suara menjawab

hanya ada bunyi tumpang tindih dari berkas cayaha suram itu

masing-masing meminta pertemanan dan saling follow

di bawah satu atap…

 

Rumah sebagai sebuah bahtera yang dibangun

dengan cinta dan keringat

dengan tabungan receh dan hutang yang masih setia

dengan nilai kontrak yang menekan punggung

kini terasa sunyi dari suara asli penghuni

 

Aku merindukan suara yang ribut

oleh permainan kartu atau ular tangga

oleh cerita dongeng dan pantun ditemani cahaya bulan

bunyi tendangan bola plastik oleh ayah dan anak lelakinya

cerewet anak perempuan menanyai ibunya tentang resep memasak dengan tempurung kelapa sebagai periuk

 

Semua keributan itu berpindah ke satu wadah

ponsel pintar tanpa nurani…

saat nama shinta diganti thomas, kobus diganti anas…

kejujuran mulai kehilangan simpati

pembicaraan dari hati ke hati diganti curiga dan cemburu

dikunci dengan password

ditutupi dengan ujaran sayang dan romantisme palsu di sosial media

 

Aku ingin pulang…

merebut kembali cinta diawal masa

 

Lelaki yang pendiam namun penuh perhatian

berkerja tanpa lelah tanpa banyak bicara

percaya pada mimpi tentang kebaikan

yang dilakoni dengan ketulusan dan pengertian

seorang lelaki yang bibirnya diam walau pikirannya ribut seperti pasar malam

hanya untuk satu tujuan…kesetiaan dan tanggung jawab

 

Aku ingin kembali…

merajut kata dan rasa dalam hati

menyimpan semua luka dan rasa sakit dalam batin yang mencinta

kerendahan hati yang mencipta kekuatan

seorang perempuan yang lebih kuat dari tulang-tulangnya

lebih perkasa dari tantangan dan beban masalah

hanya untuk satu tujuan…kesetiaan dan kasih sayang

 

Aku ingin berada kembali disini

menyediakan waktu untuk bercanda bersama

menyediakan diri untuk refleksi yang menghidupkan suasana rumah

menyempatkan diri untuk berbagi kisah di meja makan

tanpa ponsel tanpa i-pad…

mengambil jeda untuk merawat kebersamaan  tanpa media sosial

tidak saling mendiamkan dengan pesan singkat di layar handphone

aku ingin tumbuh dalam rumah yang dipenuhi cahanya

lengkap sebagai keluarga

bahwa kita pernah ribut karena masa lalu…

namun kita harus tetap berdebat untuk masa depan

dan ini bukan lagi tentang cinta yang romantis

tidak lagi tentang cocok dan tidak cocok

tapi tentang kesetiaan yang purna

sampai waktu itu tiba

teladan akan kesetiaan dan tanggung jawab menjadi warisan tak ternilai…

 

                                                                                    Claudia Karangora, CIJ

                                                                                    dili – Timor Leste

                                                                                    pada pesta keluarga kudus

                                                                                    28 desember 2025

 

 

 


Posting Komentar

1 Komentar