Berebut Majalah Tempo (antara Kampung dan Ibu Kota)

 


Berebut Majalah Tempo

(antara kampung dan Ibu Kota)

 

Terburu-buru kami memasuki sebuah kamar

malam dengan cahaya lampu remang

dua buah tempat tidur dari jaring kawat berayun-ayun saat tubuh dihempas ke atasnya

dalam sebuah rumah di bantaran kali…sederhana tapi sejuk

 

Di ujung sebuah tempat tidur tergelatak dua buah buku

satu dengan sampul berwarna kuning

itu buku sejarah kami

yang lainnya telah hilang sebagian covernya

adalah majalah Tempo terbitan tahun jauh sebelum kami lahir…

 

Tanpa ba bi bu...kami berlari berebut

ternyata kami memperebutkan buku yang sama

‘yang telah hilang sebagian covernya’

kamipun tertawa terbahak tanpa saling memberi alasan…

 

Mungkinkah kami telah melupakan sejarah diri kami sendiri

tentang alasan mendasar kenapa kami dilahirkan

tentang tempat  di mana ‘sebaiknya’ kami dilahirkan

tentang untuk apa kami harus ada

tentang bagaimana kami harus bertumbuh…

 

Siapa yang tak kenal majalah Tempo?

nun jauh datang dari ibu kota

yang hanya dipesan dan dibaca kaum elite intelektual dan pejabat

sebuah pertanda tentang peradaban budaya, ekonomi dan politik

yang terus menarasikan berita dengan konsistensi tentang idealisme jurnalistik yang independen dan berintegritas…

 

Itu cerita  belasan tahun yang lalu…

saat mengunjungi rumah tempat kami dilahirkan

dengan sejarah tentang luka dan derita

dengan cerita tentang kemiskinan dan keberanian

dengan kisah tentang kesabaran dan daya tahan

untuk membumikan cita-cita tentang belas kasih

belajar konsisten dalam semangat melayani

 

Kini kami bermimpi ‘merantau’ ke ibu kota

kami tak punya alasan kenapa harus pindah rumah

apakah kami takut dikatakan ‘orang kampung atau orang udik?’

untuk apa kami seperti ‘pergi’ dari rumah yang telah melahirkan dan merawat kami dengan susah payah?

 

Hanya dengan sebuah kalimat ‘sudah saatnya…’

apakah untuk memoles wajah yang selama ini mungkin terlihat kusam?

mengadu nasib memperbaiki ekonomi?

ingin membangun popularitas tapi lupa kemampuan diri?

 

Buku sejarah kami menceritakan identitas kami sebagai sesama orang kecil

dan majalah Tempo menarasikan kemajuan dan probematika yang terpusat di Ibu Kota

apakah kami mulai amnesia dengan identitas

ataukah kami mulai kekurangan bahkan kehilangan orang kecil

yang mungkin hanya di sana orang-orang kecil kembali ditemukan?

 

Teringat pepatah yang sering ditemukan di media sosial

‘berhentilah mengejar kupu-kupu…perbaikilah kebunmu maka kupu-kupu akan datang sendiri…’

 

Perbaiki diri dengan identitas yang tak terlupa

dengan integritas dalam karya dan pelayanan

tak perlu dikejar…tak harus ‘merantau…’

 

                                                                                    dili, 11 September 2025

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Fokus judul dan alinea awal, rinduku untuk kembali ke rumah itu, sederhana tapi menyejukkan....dan....aku hanya bisa diam๐Ÿ™Š๐Ÿ™Š๐Ÿ™Š ketika menemukan baris-baris kata yang menjadi kalimat benang merah dari sebuah judul tulisan Berebut Majalah Tempo, Good Job kawan

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebuah pengalaman yang terlihat sederhana namun bermakna jauh setelahnya....

      Hapus