Saatnya Cuci Otak
overthinking…
mungkin kata yang tidak salah
alamat
untuk kepalaku yang isinya lebih
bising
dari raungan sirene pemadam
kebakaran
sibuk tak terkontrol seperti
simpang lima kota
tanpa traffic ligth tanpa polantas
Aku mendengar isu
tentang seseorang yang bisa
mencuci otak
ini bukan tentang doktrin yang
dijejal masuk kepala
ini benar tentang cuci entah
seperti apa metodenya…
Aku pergi mencari pencuci otak
tanpa membawa teman
karena malu kalau teman akan tahu
semuanya…
aku mengetuk pintu rumahNya
tanpa perkenalan, aku tahu itu Dia
hanya dari tatapan mataNya
“Kata orang Kau buka praktek cuci
otak?”
‘untuk apa kau bertanya?
“aku mau Kau mencuci otakku dan
mengaturnya kembali”
“Aku sudah memberimu otak yang
sempurna”
“sempurna apanya? aku sendiri tak
tahan melihat isinya….”
‘lalu kau menyalahkan Aku?”
“tidak juga. maaf…tapi apakah Kau
bisa membantuku?”
‘apa yang mesti Ku bantu? kau
memiliki teman
juga bakat yang harusnya membantu’
“tidak. Aku tidak mau pulang
sebelum Kau mencuci otak ku.
aku sudah berusaha bercerita
kepada teman tapi terkadang
malah tambah rumit dan
membingungkan?
akhir-akhir ini kepalaku sering
berat dan sakit”
‘pernahkan kau lakukan sesuatu
yang lain untuk membantu?’
“minum kopi tanpa gula, menulis
tanpa judul, ingin treveling tapi minim anggaran…lalu pelarian ke media sosial”
“apakah kau mampu memilih cerita
mana yang boleh dan tidak?
“entahlah…kadang aku merasa tidak
didengarkan
atau tak punya teman yang nyambung”
‘bisa jadi ceritamu itu hanya
untuk menarik dukungan
atau bisa juga untuk menunjukan
bahwa kau hebat?
atau bahkan lebih mungkin itu
hanya sebuah pembelaan diri
juga hanya untuk menutupi
kekurangan-kekuranganmu…’
“kapan bisa dimulai cuci otaknya?
kalau Kau membelah kepalaku
Kau tidak akan menemukan
kepalsuan di dalamnya
lidahku bisa berkelit kan?
dan Kau tidak menceramahiku lebih
awal”
‘ini prosedur dan yang tadi
adalah anamnese….’
Aku minta agar bisa menyaksikan ketika kepalaku dibelah
merasakan setiap sentuhan bahkan
aku bisa memberi pendapat
bagian mana yang dicuci dan bila
perlu ada bagian yang difermak
atau kalau bisa disingkirkan
sekalian untuk saraf tertentu…
Dia membelahnya…
mencucinya dengan kesegaran yang
belum pernah kurasakan,
kemurnian air yang belum pernah
kutemukan
sentuhan lembut jemariNya
ketelitiannya mengatur kembali
aku menikmati moment ini
tak satupun kata-kata keluar dari
mulutku
tak satupun protes yang terlontar
dan Dia menyelesaikannya dengan
sempurna…
tak sadar air mataku tumpah…
kenapa selama ini aku berjuang
sendirian?
kenapa selama ini aku memeliharanya
sekian santun?
terlihat tangguh pada penampakan
luar…
Dia hanya tersenyum padaku sambil
menuliskan resep
Isinya:
‘nikmati tiap moment seperti air
mengalir,
pada saat tertentu ambilah
keputusan yang menolong dirimu sendiri,
jangan terlalu merasa tidak
enakan sambil memberi kesan ‘baik’ pada semua orang
temukan sirkel untuk bisa
berdiskusi bukan bergosip
diamlah saat pembicaraan tidak menggunakan
akal sehat
berceritalah dengan sahabat yang
tulus mengasihimu,
menulislah untuk sesuatu yang
tidak mampu kau katakan
fokuslah pada pengembangan
kemampuan bukan pada kelemahan
lepaskan apa yang pantas dilepas,
jadilah realistis
hindari pergaulan dengan orang
orang toksik
belajarlah menjadi seorang stoik.
tahu kan itu apa?
hiduplah dalam kejujuran dan ketulusan…’
“sepanjang ini resepnya? kataku
heran
‘pergilah dan perbuatlah
demikian…
jika ada sesuatu datanglah
semakin sering kau datang,
kepalamu akan semakin terkontrol….’
“Bisakah aku tinggal sebentar di
sini…?”
‘jangan lama. kau harus
melanjutkan pekerjaan-pekerjaanmu…’
kertas resep dalam genggaman
dan aku tahu itu harus diusahakan
sendiri
tidak dijual atau dijasakan dimanapun…

4 Komentar
Tulisan inspiratif. Mari kita beramai -ramai ke pencuci otak tuk mencuci otak kita sehingga kita tampil lebih berguna bagi Tuhan dan sesama. Mksh Ade tuk tulisannya
BalasHapusterima kasih banyak kk...lebih serig lebih baik..
HapusTrmks Ina, refleksi yg sangat baik. Berkat Tuhan
BalasHapusmksh kk...
Hapus