Dengan Rasa: Percakapan yang Asing

 



Dengan rasa: Percakapan yang Asing

 

Ia terkejut saat aku mendobrak pintunya

raut wajahnya berkerut dan muram

tak memberi kesempatan lontarkan tanya

aku mendekat tepat ditempatnya berdiri

 

Ada diam yang kesepian

ada canggung yang suram

aku menyeretnya tanpa perasaan

ke pojok sunyi yang gelap…tanpa kata

 

‘Kau masih mengenalku?’ katanya halus tapi sinis

dengan nada yang hampir tercekik ia melanjutkan

‘kau pergi sudah terlalu lama, kepada entah…

meninggalkanku dalam rasa kecewa

kesepian dalam gejolak tanpa nalar

memendam semua rasa yang tak berubah bentuk menjadi kata

memenjarakanku tanpa daya merangkai kreatifitas

menyiksaku dengan  tersinggung yang membakar

kau harusnya tahu bagaimana rasanya diabaikan….’

 

Kata-katanya mulai tersendat lalu tersumbat sebelum luruh

aku menatapnya tajam tanpa kedipan

air mulai menumpuk di mata …

 

“Aku pergi berpetualang…mencari logika bertemu nalar

belajar keseimbangan yang menjadikanku kuat

sebab aku tak selalu bertumbuh bersamamu

aku ingin menemukan sesuatu yang menantang

membuatku berani berpikir, berani berpendapat

tahukah kau bahwa di sana ada banyak hal yang dipelajari?

begitu banyak bakat dan keunikan yang membuatku sadar

bahwa kompetensi lebih penting dari pada cari muka

di sana aku menemukan begitu banyak perbedaan

namun diskusi yang bernas lebih bermartabat dari pada kemunafikan

mengalami kritik yang keras sampai terlihat bodoh

tepat disitu aku mengenal diri, bahwa aku tak boleh mengandalkan kuasa

di sana aku melihat masalah dan tantangan

namun diselesaikan dengan jujur tanpa bersembunyi dipunggung kekuasaan…

 

Air di matanya mulai tak terbendung…

nada suaranya patah ‘kau tak memahamiku

telah lama aku menamai diri ‘korban’, tak berdaya oleh ulahmu

menangisi diri, menyalahkan segala hal yang menyenggol emosi,

memerankan kepalsuan yang rapuh, amarah yang dibungkus tipis

dan celah bibir yang terlalu cepat memutar kata

namun aku harus tetap  tersenyum demi menjaga rasa aman…aku takut pada realitas…

 

‘Apakah kau juga merasa takut?’ tanyanya sambil me-lap air mata

 

“ya… takut kepada keengganan mengolah diri dan masa lalu

mencampuradukan ketersinggungan dan realitas

pada kesendirian tanpa kesadaran akan makna

pada hamburan kata tanpa kebenaran

tak mampu memahami arti kemandirian

lalu dengan alim memberi stempel kesombongan pada daya kritis…”

 

‘apa yang kau lakukan selanjutnya?’

terlalu cepat ia memotong rentetan kata

“aku akan selalu pergi…menjadi petualang yang dewasa untuk kehidupan,

menjadi diri sendiri …”

 

Apakah kita boleh pergi bersama?

 

“awal yang baik….ayo berkemas…tapi ingat…”

 

‘apa?’

 

“jangan cengeng…jangan terusan jadi anak mami…..”

 

 

 

dili, pada pesta St. Fransiskus Asisi

claudia karangora, cij

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Posting Komentar

0 Komentar