Theresita: Jalan Sunyi untuk Pulang

 





Theresita: Jalan Sunyi untuk Pulang

 

Terlambat aku membuka telinga

terlambat aku mengarahkan pandangan

lamban aku mengulurkan tangan

berat aku melangkahkan kaki…

 

Jalan yang kau lalui  terlalu sunyi

tapakanmu  bertabur onak duri

engkau lelah berjalan dalam kesendirian

mengeluh dengan mulut terkatup

 

Dalam sunyi engkau menenun karya paling sederhana

tak pernah berjuang untuk menjadi lebih besar

tanpa menuntut privilege untuk sebuah popularitas

pun tidak mengejar rasa nyaman palsu ataupun validasi

 

Jalanmu terlalu sunyi hanya untuk sebuah kesetaraan

sunyi yang membuatmu terluka…

sunyi yang mengheningkan rasa sakit…

sunyi yang membungkam cerita…

sunyi yang menutup jalan air mata…

 

Apakah itu adalah  harga diri?

apakah itu jalan perjuangan yang tak sampai?

ataukah buah dari rasa putus asa yang terpaksa diperam?


Tapi engkau menutupi banyak hal dengan senyum dan tawa

dengan cerita dan semangat…

 

Jalanmu yang sunyi dengan luka yang tak sempat sembuh

aku belajar untuk:

menapaki jalanku dengan sunyi yang reflektif

menggugatku untuk membuka telinga pada suara sepi yang menjerit

membuka mataku pada makna kehidupan yang kian asing

mengajari tangan dan kakiku untuk berbagi bukan merampas….

menanamkan dalam hatiku arti Jalan Salib yang sejati…

 

Theresita….

jalan sunyi itu telah berlalu

kembali kepada yang mencintaimu tanpa jika

pulang kepada yang mengahadirkanmu dengan bangga

yang menjagamu dengan kesetiaan purna

yang membasuhmu dengan air suci

yang membalut luka-lukamu dengan kain kerahiman

yang memelukmu dengan kasih sejak keabadian…

 

 

 

 claudia karangora,cij

 

 

 

 

 

 

 

 


Posting Komentar

1 Komentar

  1. Bahagia di Surga kak sayang... luar biasa perjuanganmu melawan derita hingga akhirnya bisa melepaskan semuanya... sedih sekali tidak sempat bertemu...😭😭😭

    BalasHapus