Integritas yang Terbuang

 


Integritas yang Terbuang

 

Aku terburu-buru turun dari mikrolet

menyeberangi persimpangan yang saban pagi macet

semua orang terlalu bergegas mengejar matahari

banyak yang tak sabar selalu ingin mendahului

 

Setengah berlari di pinggiran trotoar

yang hilang sebagian dicaplok kaki lima

berpapasan dengan pasar kecil yang ramai saban hari

menawarkan sayuran yang tak pernah ganti jenis

 

Aku berhenti  di sudut pasar

tepat di samping tumpukan sampah

hampir saja menabrak seseorang

ia menawarkan sesuatu yang tak biasa

integritas…

 

Tak lagi segar. tak lagi merona

‘sejak kapan kau menjual  ini?’

Ia tak menjawab

‘kenapa baru sekarang aku melihatmu?’

“aku baru saja dibuang dari tempat seharusnya”

‘kenapa?’

“aku tak lagi dibutuhkan. tak lagi dianggap penting dalam rumah

tak lagi memberi manfaat . tak lagi mendatangkan keuntungan”

 

Kata-katanya terlalu banyak ditempat seperti itu

rasa ingin tahuku mengajaknya

mencari tempat yang lebih tenang

bergegas, ia membungkus  ‘integritas’ seadanya

 

Dalam tatapan nanar dan bibir yang gemetar…

“harusnya aku ada di  rumah-rumah

yang  selalu memasang namaku di pintu depan

melekat dalam kepala semua mereka yang sering bersumpah melayani

ada di antara bibir-bibir yang menarasikan doa dan kebijakan

yang hidup berpedoman pada halaman-halaman buku aturan

yang tak pernah terlupa dalam setiap kata sambutan atau pidato

yang senantiasa digemakan dalam obrolan dan rapat gabungan”

 

‘Lantas kenapa kau harus menjual diri di tumpukan sampah pinggiran pasar?’

 

“Aku kalah bersaing

aku gagal menunjukan kehebatan

aku tak pandai membaca peluang

aku tak pandai memanipulasi kalimat untuk terdengar meyakinkan

aku tak pintar mencari muka dan menghambur pujian

aku tak punya air untuk mencuci tangan dari kesalahan

aku gagal memobilisasi dukungan agar dipercaya

aku tak punya amplop fulus penyumbat mulut

aku tak punya teman yang bisa diajak kompromi”

 

‘Harusnya kau tak perlu terbuang seperti ini…’

 

“Paling tidak aku harus mengambil sikap

engkau pasti tahu bagaimana rasanya tidak didengarkan

mungkin didengarkan tapi hanya untuk terlihat ‘adil’

manipulasi begitu menguasai dari pada kebenaran yang singkat

bisa jadi ambisi dan arogansi adalah tanda mereka memiiki power

dengan tahu dan mau menutup mata dan telinga pada fakta

kehilangan keberanian hanya  untuk memeluk rasa nyaman

daya kritis yang tergerus oleh pujian receh

kebenaran yang dihitung melalui suara terbanyak dari kotak suara yang diakali

dan saling memberi kode untuk bersepakat di lorong-lorong tanpa nama

sepertinya jumlah lebih menguntungkan dari pada kualitas dan makna…”

 

Ia mendesah panjang dan berat

beban itu masih menindih bahunya menekan kepalanya

yang ada ditangannya hampir hancur

dan rasanya aku terlalu lama di sini…

 

“Bolehkan aku menemanimu?”

aku tak kuasa menolaknya

juga sedang tak punya teman cerita

nuraniku berbisik

aku sebaiknya bersahabat

dengan dia yang kujumpai kali ini…

 

Semoga dia tak lagi terbuang ditempat seperti ini…

 

***

claudia karangora, cij

 

 

 

 

 

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar