Harga Sebuah
Panggilan
Aku membuka acak buku bernama
Alkitab
sebuah kalimat menarik perhatian
‘banyak yang dipanggil sedikit
yang dipilih’
aku berhenti sejenak dengan sepotong
rasa ‘insecure’
apakah aku termasuk ‘yang dipilih?’
Aku mencoba menemukan kata yang
mungkin lebih tepat
‘banyak yang dipanggil sedikit
yang mau’
sebab panggilan itu tak turun sebagai
barang siap pakai
ia adalah sebuah tawaran yang
menuntut kesediaan
mengharapkan kemauan merindukan
tanggapan
ia adalah harga yang mesti
dibayar…
Kembali kutelusuri jalan panjang
yang pernah dilewati
pernah begitu ragu apakah aku
akan bertahan
berdiri dijalan simpang dengan tawaran
yang sama memikat
mempertanyakan apakah aku pada
jalan yang seharusnya
oleh kegersangan yang dijumpai
Aku tergelincir menapaki lorong-lorong kesunyian
tak tahan pada kesendirian yang
kuartikan sebagai ‘kesepian’
aku melarikan diri menjumpai
keramaian di sosial media
aku pergi ke jalan jalan hanya
untuk mencuri perhatian
aku terluka pada tuntutan akan
ketaatan
mencari rasa nyaman yang akan
hilang sesuai ‘kebutuhan’
aku merasa lapar pada kebaikan
yang terlalu sering nampak dalam kesederhanaan
terlalu menginginkan ‘status
sosial’ yang membuatku lupa dari mana aku berasal…
aku menyadari….air mata akan
selalu ada
rasa lelah dan kesepian terus
mengintai
tawaran kenikmatan akan selalu
menggoda
tapi aku percaya pada janjiNya ‘akan
diberi kembali berlipat ganda’
aku akan terus berjalan dengan
kegembiraan dalam pelayanan
dengan semangat yang tak boleh
padam dalam lorong-lorong kesendirian
dengan kesederhanaan yang tak
perlu hilang dalam jebakan popularitas
Aku masih di sini…
dengan panggilan yang harus terus
diberi harga
pada setiap pikiran dan perasaan
yang memurnikan
pada setiap kata yang terucap
dengan ketulusan
pada setiap tingkah laku yang
adalah tanggung jawab
harga sebuah panggilan…
bagaimana aku merefleksikan
sebuah perjalanan
bagaimana aku memaknai jalan yang dipilih….
***
Claudia Karangora,
CIJ
Minggu Panggilan 2026

0 Komentar