yang Muda, yang Sunyi, yang Mati?

 


yang Muda, yang Sunyi, yang Mati…?

 

Aku memulai dengan harapan

mengawali langkah dengan optimis

bertekad menaklukan jalanan

berambisi mencapai tujuan…

 

Aku muda yang tak kenal lelah

mengenyampingkan keraguan dan bayang ketakutan

untuk tetap berdiri kokoh di atas wadas panggilan

memercayai cinta tanpa sekat tanpa batas…

 

Aku yang muda namun sunyi

sunyi dijalanan ramai penuh persaingan

sunyi menapakan kaki di jalanan setapak yang enggan dilalui orang

sunyi diantara bisingnya rencana kesuksesan

 

Aku yang sunyi diperjalanan batin…

membenamkan rasa sakit yang menggetarkan

perjuangan sunyi menopang tubuh yang rapuh

luka  tanpa suara

menghancurkan impian untuk melayani dengan kekuatan

 

Aku yang sunyi dibilik refleksi

senandungkan rasa sakit dikedalaman sepi

bibir enggan bertutur

namun ini bukan kepasrahan

aku hanya sedang merajut keberserahan…

 

Aku yang sunyi dibilik nurani

memilah kisah untuk menganyam makna hidup

aku seperti daun kering yang jatuh karena takdir

dengan kesadaran bahwa peristiwa apapun hanya perlu diterima

 

Aku yang sunyi dibilik pengampunan

menakar nilai dari antrian cerita yang melukai jiwa

bahwa jalanku adalah jalan pemurnian

sebab aku tak pernah benar-benar sendirian

ada cinta yang memelukku tanpa kata

 

Aku tiba pada titik nol

aku harus melepaskan untuk mendapatkan

aku harus memberi untuk menerima

kerinduan terdalam yang tak kusadari

dan aku tak lagi butuh deraian air mata

tak lagi butuh kekuatan fisik menahan rasa sakit

…….

di titik ini…

aku hanya mati dalam kedagingan yang menyakitkan…

aku hanya berhenti menghitung umur…

……..

Aku menunggu Dia menjemputku

membuka tanganNya

memelukku…tanpa ragu…tanpa pertanyaan…

hanya bisikan “ terima kasih...sudah berani dan setia berjalan dan sudah sampai di sini…. “

…….



claudia karangora,cij

 


Posting Komentar

0 Komentar