Berebut Warisan

 


Berebut Warisan

 

Tiga bersaudara mengelilingi sebuah meja

terbuat dari kayu, lapuk termakan usia

pemilik kepala meja telah lama pergi

sahabatnya masih setia dengan anyaman daun lontar

duduk membungkuk di ujung bale-bale dapur

melenturkan jemari yang keriput kehilangan lemak

 

Mereka berdebat tentang warisan

tentang peninggalan yang masih bisa dimanfaatkan

tentang kepemimpinan

tentang hak mengelola harta benda

tentang nama yang disandang

 

Yang tua berbicara dengan penuh keyakinan

tentang hak bersuara dan kepemimpinan

nada suara yang menuntut ketaatan…

anak tengah berbicara saat diberi kesempatan

seolah memahami bahwa kepemimpinan didapatkan karena talenta…

yang paling kecil lebih banyak diam sambil menunduk

mungkin ia mengerti apa itu pelajaran…

 

Tentang rumah tua yang masih terjaga namun terlihat kumuh

tentang batas-batas tanah yang yang sering diperjuangkan dengan luka

tentang nama yang seringkali dicatut untuk popularitas semu

tentang harta benda yang mencatat jasa di masa lampau

debat panjang dan melelahkan…

 

Sebuah kertas lusuh diletakan di tengah meja

oleh jemari keriput yang mulai gemetaran

tanpa kata…tanpa ekspresi berlebihan

tatapan yang telah lelah oleh air mata luka dan bahagia

ia yang suaranya tak lagi diperlukan

ia tak memperebutkan apapun

mengumpulkan apapun

mengklaim apapun

ia hanya menuggu waktunya tiba…

 

Anak tengah mengambil kertas itu untuk membacanya

merasa diri si paling seimbang

tulisan dari pemilik kepala meja sebelum pergi

“Anak-anakku…

aku meningggalkan kamu masih terlalu kecil

hidup baik-baik…di surga nanti kita bertemu…

 

Aku tak meniggalkan apa yang bernilai bagi dunia ini

berjuanglah untuk menjadi mandiri tanpa menjatuhkan saudaramu

biasakan dirimu untuk berbagi bukan memanipulasi hak orang lain

jadilah pribadi yang ditantang karena kebenaran

belajarlah bertumbuh tanpa memotong kemampuan saudaramu

teruslah berjalan tanpa menghalangi jalan saudaramu

jadilah pekerja keras yang berintegritas bukan tukang klaim atas keberhasilan saudaramu

sebab yang aku tinggalkan adalah kasih persaudaraan yang harus terus dihidupi diantaramu…”

 

Semua terdiam…

satu hal yang disadari

rumah ini bukan sekedar kepemimpinan yang dikondisikan

bukan sekedar harta yang dipenuhi klaim kendali

bukan tentang warisan mati sebagai pajangan

bukan tempat untuk mendapakan pengakuan atau validasi

bukan tempat aman untuk bersembunyi sambil mencuci tangan

apalagi dijadikan arena beradu kepentingan…

 

Ia adalah tempat pulang

tempat harta paling berharga didapatkan dengan kesadaran

untuk kenangan yang memberi makna dan inspirasi

untuk perjalanan dan perjumpaan dalam kasih yang tulus

 

Berebut warisan sejati

berebut makna dengan berintegritas…


***

claudia karangora, CIJ

pada perayaan HUT wafat Pendiri CIJ, Hamba Allah Mgr. Heintich Leven, SVD

dili, 30 Januari 2026

 


Posting Komentar

0 Komentar