Nilai Tukar
Sekian banyak hari berlalu
pagi dan petang dalam tatapan
sengit mentari
dengan tangan yang setia
menggengam payung
dan ransel bak petualang
bertengger di pundak
hendak menaklukan puncak sukses
yang mungkin
merebut nilai tukar yang entah
bernama apa…
berebut berdesak dalam mikrolet
berbayar quarter tanpa menghitung
jarak
berebut kesempatan mengejar
rejeki
dari penghuni kelas tengah
menurun
nilai tukar yang bisa jadi
bernama ‘keadilan…’
mempercepat langkah di pinggiran
pasar
trotoar yang sudah kurang
fungsinya
bahkan sebagian badan jalan tercaplok
menawarkan dagangan memungut
rejeki
nilai tukar yang mungkin bernama ‘daya
juang…’
pemandangan yang entah kapan bisa
diganti
sampah berserakan tanpa
keprihatinan
kau tau apa yang paling betah
tinggal disitu
semua berburu rejeki tanpa ketinggalan
nilai tukar yang mungkin bernama ‘keseimbangan…’
alas kaki yang sebelumnya
terpajang di etalase mall
harus rela menapaki kubangan air
berlumpur
berusaha menghindari air kotor
serempetan roda kendaraan
sembari mengumpat dengan kata
yang tertelan
nilai tukar yang boleh dinamakan ‘pengorbanan…’
ujung ujungnya mengharapkan
lembaran kertas berisi koin
biar kesetiaan ini menjadi berarti
oleh keringat yang mengalir dan
lapar yang ditahan
namakan saja nilai tukar ini ‘pengabdian…’
nilai tukar…
tak ada yang lebih berharga
selain kemampuan memberi makna
pada tiap proses perjalanan aku
dan engkau
di manapun…kapanpun…dalam keadaan
apapun…
nilai tukarmu?
***
claudia karangora, cij

0 Komentar