Titik Nol

 



Titik Nol

 

Kau memulai di Titik Nol

semua terlalu baru bahkan asing

mencoba membajak lahan dengan alat seadanya

mencoba menabur  benih dengan modal nekat

memupuk pertumbuhan dengan asa dan cucuran keringat

bahkan menunggu dalam kegelisahan

 

Di Titik Nol

kau belajar apa itu kecewa dan rasa sakit

nilai kejujuran yang menjadikanmu berkarakter

bakat dan kemampuan yang terbagi tanpa memilah

waktu dan tenaga yang tak cukup untuk diri

hingga air mata yang sengaja disembunyikan

 

Di Titik Nol

engkau tahu kapan bekerja kapan bicara

dalam diam yang kerap disalahmengerti

karena bagimu setiap kata harus dipertanggungjawabkan

dan setiap gerak laku adalah cerminan hati dan pikiran

 

Di Titik Nol

kursi yang kau tempati adalah medan perjuangan

diperebutkan orang dengan beragam motivasi

yang terdidik dengan  pencari popularitas

yang berintegritas dengan  pecundang

yang berbudaya dengan para munafik

 

Di Titik Nol

kau tahu setiap teriakan fitnah dan benci berkeliaran

dusta dan iri hati adalah menu yang entah kapan diganti

lirikan mata mencibir yang tak mau diperbaiki

hasutan dan propaganda murahan yang tak mau dididik

karena perbuatan baik sekalipun baginya adalah masalah

 

Di Titik Nol

kau tahu apa itu bonum commune

berjibaku di ruang tempur hanya untuk kepentingan bersama

tak boleh menyerah untuk menyelesaikan masalah

tak boleh rendah diri untuk nilai kerendahan hati

tak boleh lari untuk sebuah pengabdian

 

Di Titik Nol

kau mengenal dengan hati

mereka yang tetap tegak berdiri di sampingmu

saat kau terpuruk dan berkekurangan sekalipun

dalam ketulusan doa dan air mata yang jujur

karena kasih dan kebenaran yang tak boleh pergi

 

Di Titik Nol

masa lalu adalah buah tangan dan pelajaran

masa sekarang adalah realitas

dan masa nanti adalah rencana dibingkai optimisme

 

Di Titik Nol

kerjakanlah kepercayaan dengan integritas

biar yang dituai adalah hidup dengan sukacita

ingat kata Pemazmur

“pergi dengan menangis membawa kantong benih

pulang bernyanyi membawa berkas panen…”

 

Di Titik Nol…

jalani semua dengan syukur yang tak pernah cukup

dengan karakter yang kian teruji…

 

selamat mengabdi di Titik Nol..                        

 

 

***claudia karangora,CIJ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Posting Komentar

2 Komentar