Lewotobi dan Tangan yang Terulur

 

Foto: Sr.dr. L. Felicitas, CIJ dan Tim
dalam pelayanan di lokasi pengungsian mandiri
.


Lewotobi dan Tangan yang Terulur

 

Gunung Lewotobi…

laki-laki dan perempuan

keperkasaan berdampingan dengan kelemahlembutan

aku senantiasa terpesona pada puncak-puncakmu

mengagumi kelanggenganmu yang bertahan

iri hati pada kemesraanmu yang enggan berpisah

 

Pada kaki-kakimu yang kokoh dan cadas

mengalirkan air untuk kehidupan

pada punggung dan lenganmu yang perkasa

menenun alam flora dan fauna mencipta keselarasan

 

Namun…

inikah bentuk lain keperkasaanmu

yang tak dapat lagi kau tahan?

ataukah energimu yang tak lagi bisa dibendung?

ataukah pesonamu yang tak dapat lagi ditakar?

sudah bosankah engkau pada peringatanmu

yang tak dipedulikan atau dianggap biasa?

 

Engkau melumat habis semua yang tumbuh dilenganmu

aliran air sejuk kau ganti dengan api yang membanjir

semua yang berdiam pada celah-celah kakimu

kau sirami dengan batu dan debu tanpa menghitung

saat penghuni terlelap pada mimpi yang tak pernah diingat

dan hanya satu yang dapat dilakukan

pergi darimu dengan takut dan gentar

lari darimu dengan luka dan kesesakan

 

di sini…

di tempat-tempat pelarian

aku melihat kehilangan yang belum mampu dilepas

mendendangkan kecemasan dalam tatapan yang hilang asa

pada pojok-pojok pengungsian dalam kesendirian

berjuang mempertahankan nafas yang masih mau bergulir

dan senyum yang tersembunyi oleh luka dan kesulitan

 

aku tergerak mengulurkan tangan dengan segera

dengan hati yang berbelas kasih

mendahulukan  martabat tentang rasa kemanusiaan

melangkahkan kaki dalam siraman debu 

menjumpai yang mengungsi dalam kesendirian

membalut tubuh yang luka oleh bara api dan duri

obat yang melonggarkan sesak nafas pada paru-paru

mengisi piring dengan sesendok makanan

selembar kain untuk lapak tidur

juga cerita yang memberi harapan untuk pulih

 

aku hanya memberi tenaga dan waktuku

untuk melanjutkan uluran tangan kasih pemilik empati

yang tak sempat hadir karena jarak

namun dipenuhi cinta dan kepedulian berbagi

 

Dalam beragam rasa yang tak dapat kujelaskan

Lewotobi bisa jadi mengajari kita

untuk kembali berjumpa dalam rasa kemanusiaan

yang kian berjarak oleh individualitas dan modernitas

Lewotobi mendidik kita

untuk  menumbuhkan kepedulian merawat solidaritas

yang kian hilang oleh ego dan keangkuhan

Lewotobi mengetuk hati kita

untuk terbuka dan bersedia mengulurkan tangan

berbagi tanpa menghitung tanpa mencari popularitas

apalagi sengaja menggenggam atau menimbun untuk diri

 

tanpa banyak bicara tanpa banyak penjelasan

tanpa banyak aturan tanpa banyak prosedur

aku masih di sini

mengulurkan tangan untuk berbagi…

 

 

 

 

 

 

 


Posting Komentar

0 Komentar