Aku dan Raja di
Episode Terakhir
Adalah seorang penulis skenario
menulis cerita pada lembaran
hidup
dengan tinta-tinta pena beragam
warna
yang lekat meninggalkan jejak dan
sejarah
atas nama kebebasan dan harga
diri
Adalah seorang Raja sekaligus
Sutradara
yang dengan rela meninggalkan
kerajaan
hanya untuk merebut kembali yang
pernah keluar
dari skenario yang harusnya
dilakoni
atas nama cinta dan martabat
ciptaan
Entah berapa banyak episode telah
aku lakoni
sekuat tenaga menggurat makna
sebagai pemeran protagonis
beragam rasa terseret dalam peran antagonis
bercampur membaur mencipta
skenario tentang hidup
Tibalah episode terakhir
aku tak mungkin menolak Raja
tak mungkin menghindari Sang
Sutradara
‘seperti apa cerita di episode
terakhirmu?’
“eeee entahlah…apa Kau bisa
membaca skenario yang telah kutulis?”
‘kenapa baru sekarang? itu tak lagi penting. Bahkan kau telah melakoninya bukan?”
Aku bingung dengan buku skenario yang
mulai kusut
“bolehkah aku minta waktu
sebentar? Engkau memanggilku terlalu tiba-tiba hingga aku belum memperbaiki
beberapa tulisan dan adegan”
‘apakah memang waktu itu penting
untukmu? sudah berapa banyak waktumu yang harusnya kau gunakan untuk itu?
Aku selalu rindu menunggumu,
bahkan berulang kali mengetuk pintu hatimu… namun engkau terlalu sibuk dengan
dirimu sendiri’
“bukankah aku sering datang
kepadaMu di tempat-tempat rohani? bahkan sangat setia dengan aturan, taat
dengan kewajiban?”
‘Aku memang sering melihatmu
melakukan itu, tapi itu hanya untuk menjaga rasa nyamanmu, menakar dan
membentengi diri dengan status sosialmu‘
bukalah alur ceritamu…kita hanya
perlu melihat apa adanya
endingya tak boleh bertolak belakang
kan?
bersamaNya aku tak mampu
berdusta…
apakah aku berbicara padanNya
dengan hati?
ataukah menceritakan dengan angkuh
tentang kebaikanku
hanya datang dengan segala macam
keluhan
bahkan aku menyuruhNya
membalaskan sakit hatiku
aku terlalu egois untuk
mengampuni bahkan diriku sendiri…
sampai-sampai aku lebih percaya pada kekuatan klenik...
lalu aku pulang dan meneruskan
skenarioku sendiri
“apakah bisa happy ending”?
Sang Raja menyuruh seorang bersayap dengan selembar kertas
‘isilah itu, kita bisa tepat menentukan
endingnya’
sebuah kuesioner dengan kotak untuk diisi tanda centang
‘Selalu, Sering, Kadang-Kadang, Tidak Pernah’
pernyataan:
hati dipenuhi rasa syukur dan
sukacita
senyum yang tulus dan selera
humor yang baik
waktu untuk hening dan refleksi
diri
pengampunan dan penyembuhan luka masa
lalu
air mata yang dipersembahkan
untuk pemurnian
kesabaran dan daya juang akan
kebenaran
hati yang berempati melayani dan
tidak menunda-nunda
tulus mengasihi tanpa cemburu dan
posesif
telapak tangan yang terbuka untuk
orang miskin dan perantau
rasa tanggung jawab dengan
pekerjaan sederhana sekalipun
jujur dan adil dalam kata maupun
tindakan
hidup sederhana dan berbagi tanpa
gerutu
bersahabat dengan lingkungan
selesai dengan diri untuk melayani
banyak orang…
di halaman akhir terlihat lebih
kekinian…
lebih betah bersama ponsel
bermental pemalas tapi ingin kaya
dan sukses
membuat masalah tapi merasa diri
jadi korban
mencipta cerita sukses dari hasil
kerja orang lain
lebih suka pamer perasaan dan doa
lewat status di sosial media…
aku pasrah di episode terakhir…

0 Komentar