Kunjungan Saudara Kembar

 



Kunjungan Saudara Kembar

 

Pada satu titik aku menyadari

Aku terluka sekian parah

seorang dengan kesepian bergelayut

ia ada di mana mana

di setiap sudut ruang yang tak pernah ditelusur

betapa kesepian itu dapat begitu menyakitkan

mendorongmu ke pinggiran jurang

sekalipun engkau ada di tengah metropolitan…

 

Pintu rumahku diketuk tengah malam

ketukan penuh iba

aku enggan keluar dari selimut hangat

tak mau diganggu tak mau direpotkan

namun ketukan kian iba…

 

Sesorang melongok dalam kedinginan

sangat mirip dengan diriku

pernahkah dua orang terlahir persis sama?

ataukah ini efek penggunaan IA yang keren itu?

namun dia terlihat lebih gelap dan urakan

 

‘Aku adalah kembaranmu’ katanya

“Ah…tidak mungkin…tak ada yang memberitahuku”

‘Aku selalu ada hanya tak kau sadari’

“Terus? haruskah aku mengakuimu sesegera ini?”

‘Tidak juga. tapi bisakah kita bercerita?’

enggan rasanya namun kupersilahkan saja

 

“Siapakah kamu sebenarnya?”

‘Kembaranmu. bukankah hidup ini selalu ada dua sisi?

gelap dan terang, baik dan buruk, hidup dan mati?’

Aku diam saja tanda mengamini

 

“Lantas apa tujuanmu? menceramahiku?”

‘Aku hanya berkunjung’

“Jam begini?”

‘Kau akan lebih jujur’

“Please, aku tak mau diganggu”

 

‘Kita kembar, aku hanya mau kau tahu bahwa aku ada

kau selalu berusaha menampilkan diri terbaikmu,

kau ingin orang lain kagum, memuji dengan bayaran,

kau sulit dan tak mau mengakui sisimu yang lain,

kau menyembunyikan kian rapih, penuh polesan’

 

“Oh tidak…untuk apa kau katakan semua itu?

bukankah seharusnya begitu jadi pejuang?

harus terlihat tangguh dan tak boleh mengeluh?”

 

‘Aku hanya mau kita jadi orang yang seimbang

aku hanya butuh disadari keberandaanku

tak mungkin kau hidup bahagia tanpa aku

semakin kau pojokan aku

semakin aku mencari jalan keluar untuk diakui

bahkan sangat mungkin merusak hari hari yang kau anggap sukses’

 

“Apa yang harus ku lakukan?”

‘Sesering mungkin panggil aku

biarkan kita bicara baik-baik

aku akan mendukungmu mengambil keputusan

kau harus memulai dengan kesadaran bahwa kita kembar

jangan sepelekan aku terus terusan

tersimpan dalam alam bawah sadarmu

luka, rasa sakit, kecewa, amarah

suatu saat akan meminta kompensasi atau ganti rugi

dan hanya kau yang harus membayarnya sampai lunas’

 

“Kau mengancamku?”

‘Tidak. Aku hanya mengingatkan

hanya mau bilang aku akan selalu ada

seberapapun rapih kau menyembunyikanku’

 

Aku lelah…

mendengarkan tamu yang bahkan tak kuundang

“Bisakah kau pergi dulu?

aku tidak berjanji menerimamu lagi

tapi kapan saja kau boleh mengetuk pintu rumah ini

mungkin kita bisa minum kopi sambil cerita….”

 

aku sadar…

segelas air putih pun tak ku suguhkan

dan aneh…

aku merasa aku punya teman cerita yang lura biasa

 

aku kembali tertidur dengan senyum yang lebih polos…


Posting Komentar

0 Komentar