Kejujuran di Jalan Simpang

 





Kejujuran di Jalan Simpang

 

Suatu senja aku pergi menyusur jalanan

ingin menikmati terbenamnya mentari di bibir pantai

katanya ia selalu menampkan aura yang romantis

setelah lelah berjalan memberi diri bagi kehidupan

 

Aku bertemu seseorang di simpang jalan

pakaiannya sederhana tatapannya polos

terlihat bingung arah mana yang dipilih

bisa jadi ia kelelahan karena perjalanan

sebab semua yang lewat sibuk mengejar targetnya

tanpa peduli tanpa menoleh apalagi bertanya

 

Aku mendekatinya dan mengajaknya ke pantai

‘di sana kita bisa istirahat, menikmati senja dan makan sesuatu’

ia mengangguk dengan sangat perlahan

perjalanan yang lamban tapi kami menikmatinya

 

Kami tak sempat melihat romantisnya senja

apakah ia terlalu terburu-buru menebar pesonanya

lalu menghilang tanpa mau dirayu?

ataukah kami yang terlalu lamban dalam perjalanan

tak tertarik pada hiruk pikuk merebut kesempatan?

 

Saat banyak orang beranjak pulang

dengan potret selfi bersama romantisnya senja

siap dipamerkan siap diviralkan media sosial

semua yang dikejar dan ditangkap

rasanya tak pernah cukup…

 

Kesunyian ditemani semilir angin

tak kalah romantis dengan apa yang kelihatan mata

tak kalah bermakna saat banyak orang

berjuang merebut  pujian dengan jempol jari

 

Dalam diam yang bening

kejujuran berbicara dalam bahasanya sendiri

“aku telah lama berkeliling dalam kota ini

banyak pertumbuhan sekaligus mencipta sekat dan batas

orang-orang berjibaku saling bersaing

mereka pikir apa yang mereka dapatkan adalah harga diri

uang, kekuasaan, kekuatan, popularitas

mereka  memamerkan kata kata pencitraan

hanya untuk membenarkan diri atau takut ketahuan

di depan gerbang mereka mengangguk dengan keyakinan

pada kesediaan menggandeng kebenaran

namun dibelakang pintu mereka mendendangkan nyanyian

aku masih seperti yang dulu…

di depan umum mereka berjanji mencipta perubahan

dibelakang tembok mereka berkompromi melakukan pemalsuan

di depan orang mereka berbicara dengan keramahan yang asing

di belakang tirai mereka mengiris nama sesamanya dengan saksama

mereka selalu berusaha memamerkan label intelektual

hanya untuk mencari muka dan meminta minta validasi

di depan kekuasaan mereka merunduk dengan kesantunan

dibelakang meja lembaran pelicin membungkam etika dan moral”

 

ia terdiam lama…

aku bisa merasakan butiran air matanya jatuh…

 

sementara aku membisu…

tak satupun diksi terkumpul di ujung bibir

tapi isi kepalaku bergulat dengan bahasanya sendiri

‘siapakah engkau sebenarnya wahai kejujuran?

sedemikian rapuhkah engkau dihadapan manipulasi?

seberapa asingkah engkau hingga tak dipedulikan?

apakah engkau identik dengan kekalahan?

apakah kehadiranmu selalu membuat kejatuhan

hingga orang takut mendekapmu?

kenapa aku harus menemukanmu di jalan simpang tadi?’

 

Kami masih di bibir pantai

romantis ditemani bulan purnama

kejujuran berbisik  di pangkal telingaku

“maukah kau kutemani menyusur jalanan?

dusta mungkin lebih populer

dan kejujuran sedemikian terpojok

tapi cahaya bulan ini seperti kejujuran

tenang, polos dan romantis bagi yang mencintainya…”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Posting Komentar

2 Komentar

  1. Trmks Ina, teruslah berbagi berkat melalui karya yang bernilai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kak...salam sehat ke tanah kaltara...

      Hapus