Dapurku Wajahku
Aku pernah membaca quotes
“Jika mau tahu karakter
seseorang,
berilah dia uang dan jabatan”
“Jika mau lihat wajah asli
seseorang
lihatlah bagaimana ia
memperlakukan dapurnya”
aku memilih untuk melihat kembali
isi dapurku
sebab soal uang dan jabatan
mungkin butuh auditor eksternal…
aku berhenti tepat di depan
sebuah wastafel
air tak bisa lagi keluar dari mulut keran
entah apa yang terjadi dalam
perjalanannya
entah disabotase entah dipatahkan
ataukah mulutnya yang tak bisa
lagi diatur?
Di atasnya sebuah cermin setia bersandar
mungkin umurnya setara wastafel
ia pasti tau sejak kapan wajahnya
mulai kusam
butiran air dan debu yang bersama
karena terpaksa
mencipta gambar yang agak lain
bahkan wajahku yang telah
dipolesi bedak
dalam senyum pun terlihat lebih
lain
Aku terus melangkah ke dapur
bagian paling membanggakan
sekaligus mencerminkan
tentang raga yang harus diberi asupan
oleh kerja keras memberdayakan
diri
ataupun asap yang masih bisa
mengepul
walau itu dari pinjaman atau
pemberian tetangga
di sini…kisah tentang wajah
diberi makna
aku sempat terpeleset oleh sisa
air
yang menggenang oleh pembiaran
anggota komunitas dapur bebas
menempati setiap pojok
dengan tak tahu posisi diri atau
lupa bentuk tubuhnya
dan fungsi yang tidak perlu
dijelaskan berulangkali
bisa jadi mereka sering
dikunjungi pencari sisa
bernama titik titik dalam tanda
petik
lewat lorong berair pekat yang
kian sering tersumbat
oleh malasnya jemari memungut
sampah
muka perapian ramai oleh remah
beraneka model
sepertinya dia sudah belajar
setia menjadi korban
meja dapur berdiri minder di
sebelah sana
tak lagi dibedakan warna keramik
atau kotor yang melumut
mungkin dia mengharapkan
guncangan atau benturan
ia lebih rela runtuh dan selesai
agar tak lagi dijadikan tumpuan
tanpa kepedulian
aku terhenyak pada gentong air
bermulut robek
seakan berteriak garing ‘kapan
aku diganti?’
di sampingnya segulung selang
berisitirahat
dengan luka sayatan hampir
disekujur tubuh
dan aku mendongakan kepala ke
langit
laba laba sibuk menganyam jaring
mungkinkah itu pesanan spiderman?
Aku keluar dari sana dengan rasa tanpa
nama
aku tak tau mana yang harus didahulukan
menata isi dapur atau memoles
wajah pada cermin kotor?
membersihkan selokan atau memposting
status di sosmed?
jaringan air atau amplop fulus
tutup mulut?
sikat pembersih atau kapas
pembersih muka?
gentong bermulut robek atau tutur
bibir menutupi fakta?
memberdayakan diri dengan kerja
jujur
atau sibuk memasang topeng
pencitraan?
Haruskah aku mencari lagi cermin
dan memasangnya di dapur
biar wajahku terlihat jelas dari
dapurku
tanpa kepalsuan tak ada manipulasi?

0 Komentar