Religius: Minyak Wangi
dan Orang Pinggiran
Papa Fransiskus…
dia datang bukan membawa berkat
dia yang datang adalah berkat itu
sendiri
dirinya adalah buli buli berisi
minyak wangi
dengan rambut putih renta dimakan
usia
lutut yang goyah digilas panjang
jalan kehidupan
Tutur katanya adalah bahasa kesadaran
“menjadi religius berarti menjadi
seperti minyak wangi”
berani membuka tutup diri untuk
meminyaki kaki Tuhan
menyekanya dengan martabat dan makhota
kemurnian
dalam ketulusan memberi tanpa
menggenggam
tidak menyimpan itu sebagai
sebuah exclusivitas
Menjadi seperti minyak wangi
bukan untuk menjadikan diri pusat
perhatian
bukan untuk menebar pesona minta dihargai
bukan untuk mencipta gambaran
diri paling suci
bukan untuk membangun tembok pelindung
megah
bukan untuk melukis privilege
dalam lembaran karya
Minyak wangi itu untuk orang
pinggiran
yang telah menjadi tujuan engkau
bersumpah
Tuhan pun tersenyum di pelataran baitNya
karena kesediaan menjadi buli
buli minyak wangi
Tapi di manakah minyak wangi itu?
yang didapatkan hanya oleh
anugerah
dalam perjalanan panjang yang merapuhkan
lutut
dalam beraneka kisah yang
memutihkan rambut
Mengapa minyak wangi itu seperti kehilangan aromanya?
fasilitas karya yang dibangun
dibatasi kelasnya
yang tak bisa dijangkau orang-orang
pinggiran
mungkinkah semua telah dipasangi
label harga?
ataukah persaingan dan manipulasi
telah menutup buli-buli itu?
Engkau adalah representasi orang pingiran
kembalikan aroma minyak wangi itu
kepadanya
jangan kau simpan di saku jubah
itu
mungkinkah di sakumu juga
tersimpan banyak lembaran
hanya kau yang tau apa dan berapa
nilainya…
Religius, minyak wangi dan orang
pingiran…
takutkah engkau untuk menjadi
miskin di hadapan Tuhan?
takutkah jika buli-buli itu kosong
dan tak lagi terisi?
bukankah semakin kau memberi
kelimpahan itu tumpah di pangkuanmu?
***
Sebuah refleksi atas pesan Paus Fransiskus
pada pertemuan dengan para religius di Katedral
Dili
10.09.2024.

0 Komentar