Mengabdi di Jalan
Sunyi
Aku terpanggil untuk mengabdi
menyusur jalan sunyi demi
ketaatan
oleh sabda Sang Gembala Agung
“Pergilah dan Perbuatlah
Demikian”
Aku merapal perintah itu di jalan
sunyi
menelusur pinggir jurang kampung
pedalaman
pun dalam remang kehidupan kota
ditemani tantangan dirayu goda kenikmatan
namun kaki ini tak mau menepi mencari kenyamanan
tak mau jemari ini tak lentik
dalam berbagi kasih
Dalam tibunan masalah
aku melihat mutiara dibalut lumpur
dan dalam sunyi yang menggetarkan
aku memperbaiki kerusakan meluruskan
yang bengkok
merangkul yang sempat terpisah
mendukung yang mau bertumbuh
Di jalan sunyi pengabdian
goda popularitas dan harta tak boleh
meruntuhkan moral etika
sebab memeluk kejujuran dalam menapaki realitas
adalah harga yang tak boleh
disepakati
tutur bibir ini terdengar tegas
dan keras
tak mengenal kompromi untuk
sebuah kebenaran
tapi aku memenuhi hati dengan kasih untuk kebaikan
melukis senyum di wajah tanpa
kepalsuan
dan pengampunan yang tak boleh
dilabeli harga
Aku belajar di jalan sunyi
bahwa pujian tak membuatku lupa
akan hakikat diri
dan hinaan sekalipun tak
membuatku patah apalagi runtuh
karena aku percaya pada cinta
yang tulus dan doa yang membumi
untuk selalu sama dalam
semangat melayani
untuk setia merawat loyalitas
pada kehendakNya
karena aku hanyalah hamba untuk
memberi yang DIA titipkan
Mengabdi di jalan sunyi
anggun dalam kerendahan hati
adalah pelindung
berkanjang dalam integritas
adalah senjata melawan kemunafikan
selesai dengan diri adalah kebebasan
sejati
dan ketulusan dalam mengabdi akan
dipeluk sukacita...
Aku mengabdi di jalan sunyi…

0 Komentar