Rindumu Bunda (sebuah refleksi di bulan Maria)




Rindumu Bunda

 

Rumahmu adalah kesunyian

Menebar kasih dalam keheningan

Tak banyak tutur bagai hamba

Kemurnian hati adalah mahkota

 

Pangkuanmu selalu ingin aku pulang

meringkuk dalam hangatnya pelukanmu

Panggilanmu  bagai gema rindu yang membuncah

Kembali dalam balutan kasih sayang

 

Pancaran matamu adalah ketulusan paling sempurna

Menghanguskan tatapanku yang penuh penghakiman

Hatimu luas dipenuhi kemurnian cinta

Menenggelamkan hatiku bermuatan ego dan kemunafikan

Kesetiaan hamba Tuhan adalah hidupmu

Teladan sempurna bagi kesetiaanku yang ringkih


Bunda…

Jemputlah aku di pintu rumahmu

Biar kisah pelarianku mendapat tempat pulang

Lebarkanlah rentangan tanganmu

Biar aku tak ragu berserah dalam rengkuhanmu

 

Bunda…

Ajari aku tanpa jeda

Bagaimana melihat dengan empati

Dinginnya  perjalanan ke Betlehem

Ajari aku tanpa lelah

Cinta besar dalam hal sederhana

Bagai  kisah  kasih dikesunyian Nazareth

Ajari aku tanpa batas waktu

Merawat kemurnian hati dan tubuh

Dalam gempuran godaan kenikmatan ragawi

Demi kisah cinta sampai puncak golgota…

 

Posting Komentar

2 Komentar