![]() |
| foto: Bedugul-Bali-2021 |
Makna Nama dalam
Perjalanan
Hadirku bukan kebetulan
adaku bukan sekedar jawab dengan
kata
lahir oleh sebuah jeritan
untuk sebuah jawab dengan
tindakan
teriakan luka oleh perang mendera
rintihan iba perempuan terhimpit
dalam kasta patriarki
Dilahirkan di kampung miskin pedalaman
untuk temukan cinta dalam mereka yang
terpinggirkan
menenun kesederhanan seperti
keluarga kudus Nazareth
keheningan, kerja keras dan
persembahan diri
Aku berjuang tumbuh dalam
kekurangan
merangkul rasa sakit dalam butiran
keringat
dengan cinta pada Sang Tersalib
terus berjalan walau letih dengan
tantangan
Ikuti Dia yang aku panggil
Saudara Sulung
Mentalku ditempa, angkat muka menatap
langit
menggapai kemandirian dengan
kerja tanpa lelah
merawat yang sakit mendidik yang
terbelakang
mengasuh yang terlantar mencari
yang hilang
dalam kharisma yang menjiwai
tutur dan gerak
selalu bersahabat dengan deus
providebit
Kini … entah sampai di mana aku
pergi
melanglangbuana memburu yang dicitakan
sekuat tenaga kibarkan visi misi
menggeliat bersama dunia
tak mau berhenti, tak mau
ketinggalan
Ku ambil jeda tuk lihat kembali
waktu dan sebab kelahiranku
jalan-jalan yang ku lalui dengan luka
pada telapak kaki
cinta pertama dalam rumah
bekas di bantaran kali
keringat yang dihapus oleh tangis
yang disembunyikan…
adakah aku lupa pada cinta
pertama di kaki gunung itu
sunyi dengan kicauan unggas hening
dalam gemercik air
cipta persahabatan langgeng
dengan alam
yang kini diganti kemudahan dengan layar sentuh
dengan emosi yang diumbar berebut
viewer
yang membuatku betah di pojok
kesepian
dalam halu aku melukis
persahabatan
merayu paksa sepotong perhatian…
adakah aku lupa pada jejak kaki saudara
sulung
telusur tapak perkampungan untuk
perjumpaan
yang kini ditutupi kemegahan kota
dan jalanan mulus
mau pergi tapi di mana dulu
lokasinya…
mau bertemu tapi siapa dulu
orangnya…
mau memberi tapi kalkulator setia
menemani…
Adakah aku lupa pada lengan-lengan
kuat
yang berayun membelah tanah menabur
benih
lenturan jemari menenun tanggung
jawab
lalu berbagi dengan tatapan
bahagia
kini lahan itu berganti ponsel pintar tanpa nurani
gibah tak berujung dan intrik tanpa
titik temu
mengobral keluhan tapi enggan mencabut
gulma
memilih merawat kuku, memoles
muka dengan skincare oplosan
sambil mengomentari taman indah
milik tetangga
adakah aku lupa pada semangat
warisan Pendiri
yang aku sematkan sebagai
kedaulatan dan kompetensi
yang kini berlomba dengan deretan
label intelektual
memperdengarkan kesuksesan mempermainkan makna
berjibaku meraih harga diri
dengan cuan sebagai acuan
tega menelantarkan integritas asal
dia senang…
janganlah aku lupa pada identitas
diri
pada Cinta yang mendorongku
pada Salib yang erat memelukku
sebab namaku itu Nama Dia…
Claudia
Karangora, CIJ
Sebuah refleksi untuk tahun
Yubileum, menyongsong 90 tahun CIJ

0 Komentar