Tepian Batas (sebuah refleksi akhir tahun)

 



Gambar: Internet


TEPIAN BATAS

 

Jutaan kisah telah tercatat

terekam dalam memori yang mulai berdebu

teronggok sebagian di pojok alam bawah sadar

rute perjalanan yang dilewati

lorong-lorong tak dikenal

barang yang telah dibeli

yang berguna dan sia-sia

emosi yang terbungkus dalam cerita

tentang sukacita dan putus harapan

beban berat yang masih terbawa…


engkau memberi helai-helai harimu

untuk aku berkisah

helai yang gugur satu demi satu

 

Kisah tentang hatiku…

dipeluk bahagia karena cinta

menenun persahabatan dengan  bermakna

walau rasa sakit tak pernah jauh darinya

nikmati kesendirian dibalut kesunyian yang galau

sekaligus kecemburuan yang tak mau kalah

 

Kisah tentang kepalaku…

yang melahirkan sebongkah kreatifitas

melahirkan kata demi kata dalam tarian pena

yang berhenti pada gagasan dan idealisme

bahkan berakhir pada perdebatan tanpa solusi

 

Kisah tentang mataku…

yang berbinar menatap keindahan

pancarkan optimisme dan kejujuran

juga berurai air lantaran kecewa dan kehilangan

yang  kadang suka melihat kejatuhan

lalu menyipit dengan sinis dan sindir

 

Kisah tentang telingaku…

yang siap mendengar curhat dalam rintihan luka

yang tertutup headset untuk musik penghibur diri

berita benar dan bohong berebut lorongnya

yang jadi layar terkembang karena pujian receh

dan gosip ala pinggir selokan

 

Kisah tentang bibirku…

yang berucap kelembutan dan kejujuran ditiap diksi

mengungkap kesadaran diri sejati dan apresiasi

tersenyum, tertawa bersama sahabat

yang lebih baik ditutup untuk pemahaman seujung kuku

pun dalam rongganya terselip belati amarah dan kebohongan

menggores luka bernanah entah kapan sembuh

mencipta kemunafikan ditiap celah perilaku

 

Kisah tentang tanganku…

yang diayun untuk kerja keras dan kreatif

tak menahan diri pada kerja kecil sederhana

melenturkan jemari untuk berbagi

tidak  saja merusak kuku menggeser layar ponsel

bukan dengan menunjuk-nunjuk kesalahan orang

lalu bertepuk tangan pada  panggung sandiwara

 

Kisah tentang kakiku…

yang berlari…lari….lari

menginjak realitas dan terluka…perih…

menjumpai sesama peziarah

kelaparan makan, kehausan cinta dan hilang asa

atau tetap tinggal berdiri diatas kebiasaan

diatas pecahan beling

lebih terluka…tetap berdarah…tak mau berubah

 

terima kasih untuk kisah kita yang telah terajut

engkau menjadikkan aku makhluk yang menikmati kisah

ditiap helai penanggalanmu

membiarkan aku berdandan dengan kekuatan

membiarkan aku melumat kesabaran dalam ketulusan

membiarkan aku bercumbu dengan kepedihan

aku telah memahaminya

aku telah mencintainya…


Sebentar lagi helai terakhirmu pergi

hilang. lenyap. tanpa kembali.

aku melepas… 

Dalam SYUKUR dan CINTA pada SANG WAKTU 

……. 

aku masih di sini…

menunggu dengan harapan dan doa

untuk menenun kisah di helai-helai yang akan datang…

 

 ...claudia karangora cij…

Posting Komentar

0 Komentar