Komunikasi Kepemimpinan
dan Pesan Anti Gagal
Kita pasti pernah mengalami bagaimana sebuah pesan yang disampaikan
membuat kita bingung, tidak mengerti bahkan menolak untuk memberikan respon
positif. Kita bertanya-tanya apa maksud pesan itu, mengapa pesan itu seolah
dipaksakan dan mengandung tuntutan untuk diikuti.
Dalam organisasi atau institusi
apapun, banyak pihak terlibat untuk mencapai keberhasilan; pemilik, pimpinan,
karyawan, konsumen atau pengguna jasa dan lainnya. Namun keberhasilan itu tidak
semata bergantung pada kompetensi orang-orangnya dan seberapa tinggi
pendidikannya tetapi juga kemampuan komunikasi yang baik. Ketidakmampuan
pemimpin dalam berkomunikasi akan sulit membawa organisasi pada kerja sama
yang produktif dan berkelanjutan. Iklim dalam berorganisasi akan suam-suam
kuku.
Sebuah penelitian yang dilakukan
oleh Universitas North Dakota menunjukan, 7% adalah apa yang anda katakan dan
93% adalah bagaimana anda mengatakannya. Maksud yang baik, apabila disampaikan
dengan cara yang tidak tepat akan mengakibatkan salah pengertian.
Aktivitas harian kita dipenuhi
dengan pesan verbal. Ketika kita berada dalam diskusi kelompok, rapat kerja,
negosiasi dengan pihak lain, tawar menawar dengan pedagang di pasar untuk
menyepakati harga, pidato politik, seminar, bakti sosial, aktivitas dalam rumah
tangga, belajar mengajar, melayani pasien di rumah sakit, semua itu membutuhkan
komunikasi lisan.
Lantas, mengapa masih saja kita
temukan terjadinya pertengkaran, saling menuntut, ketidaksepakatan dan respon negatif terhadap pesan yang diterima? Bisa
jadi karena banyak dari kita yang tidak menganggap betapa pentingnya komunikasi.
Penekanan dalam menyampaikan pesan masih pada apa yang disampaikan bukan pada
bagaimana cara menyampaikannya. Kita masih menggunakan cara yang menunjukan
bahwa apa yang disampaikan wajib didengar dan diikuti. Bawahan atau karyawan
wajib mendengarkan pimpinan. Kurang adanya iklim kerja yang mendorong kerja
sama dalam saling pengertian, memahami tugas dan tanggung jawab serta membangun
komunikasi yang efektif. Situasi penerima pesan menjadi penting untuk dipertimbangkan.
Yang menyampaikan pesan tidak sekedar menjadi pengeras suara atau toa.
Dalam banyak kasus seperti teguran
terhadap karyawan, pemberian surat peringatan, perubahan gaji, evaluasi kinerja
dan penyampaian berbagai kebijakan kurang memperhatikan proses yang baik dan kepentingan
lawan bicara. Lawan bicara atau penerima pesan dianggap pasif. Wajib taat
kebijakan.
Menerapkan komunikasi yang melibatkan
penerima pesan secara langsung dan persuasif adalah tepat untuk mendatangkan
manfaat bagi kedua pihak dan pesannya
tidak akan ditolak atau ditentang oleh penerima pesan.
Pemberi pesan sebagai penyalur
manfaat.
Organisasi atau institusi pasti
memiliki kepentingan yang ingin dicapai yang diwakili oleh pemimpinnya. Namun
kepentingan itu tidak harus diutamakan. Utamakan kepentingan lawan bicara atau
yang menerima pesan. Itulah komunikasi yang menyalurkan manfaat. Siapapun tidak
akan menolak pesan jika pesan itu memberikan manfaat baginya. Seperti pepatah
yang sering kita dengar, biasakanlah untuk mengerti lebih dahulu baru
dimengerti. Dalam memberi teguran, surat peringatan, pemotongan gaji
misalnya, mengutamakan manfaat bagi
penerima pesan adalah mutlak; seperti memberikan evaluasi kinerja yang objektif
(kekurangan dan kelebihan), mendapatkan pengertian dan penerimaan tentang
kondisi keuangan organisasi. Mengutamakan kepentingan orang lain adalah
komunikasi yang efektif.
Jadilah pendengar yang baik.
Kita harus memiliki empati untuk
menjadi pendengar yang baik. Dengan empati kita memahami kondisi psikologis
lawan bicara. Komunikasi yang efektif dimulai dengan menjadi pendengar yang
baik. Dengarkan sebelum didengar. Hal yang sulit karena setiap kita yang
memiliki ego akan lebih mau untuk didengarkan terlebih dahulu. Sering terjadi
kesalahpahaman, informasi yang didapat tidak objektif sampai pada kebijakan
yang diambil tidak sesuai harapan hanya karena kurangnya empati, kurangnya
kesediaan untuk mendengarkan. Kemampuan mendengarkan dengan baik akan mendapat
informasi yang cukup, untuk memahami persoalan secara lebih baik dan
objektif.
Sikap terbuka dan berempati untuk
berkomunikasi kepada semua pihak. Ketika ada masalah yang terjadi antara
karyawan maka seorang pemimpin harus mendengarkan semua pihak. Tidak ada lagi
mendengarkan karena alasan suka dan tidak suka atau terlebih dahulu membentengi
diri dengan informasi yang disuka dan tidak disuka, atau lihat dahulu siapa yang
berbicara.
Ketika kita terus melatih diri untuk
mendengarkan dengan empati dan memahami lawan bicara, orang lain juga akan
bersedia mendengarkan, memahami dan tidak menolak pesan yang disampaikan.
Komunikasi itu menjawab kebutuhan.
Setiap kita memiliki kebutuhan
ketika berkomunikasi. Kita menghendaki agar didengarkan pendapatnya, untuk
dihargai, diberikan apa yang menjadi hak kita, diperhatikan kepentingan kita.
Maka komunikasi yang tidak akan ditolak adalah komunikasi yang menjawab
kebutuhan.
Dalam menyampaikan berbagai
kebijakan atau peraturan organisasi, kita dapat melihat sejauh mana karyawan
memberikan respon terhadap apa yang disampaikan. Apakah ada respon positif atau
penerimaan? Ketika ada respon positif menunjukan bahwa apa yang disampaikan itu
menjawab kebutuhan. Ataukah kita menemukan kesalahpahaman, respon penolakan
bahkan terciptanya narasi-narasi liar dan tidak bertanggung jawab tentang
organisasi karena rendahnya komunikasi yang dibangun?
Komunikasi yang anti gagal adalah menjadi
penyalur manfaat, menjadi pendengar yang baik dan dapat menjawab kebutuhan.
Berhasilnya organisasi, sangat bergantung pada kemampuan komunikasi pemimpinnya.
Catatan:
disarikan dari Suryanto Dasep, effective
leadership communication, (Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2022)
0 Komentar